Melihat kejadian itu orang banyak terheran-heran dan bertanya. “Kenapa harus anak kecil yang berjalan, dan anda dengan santainya menunggangi keledai?” kata orang banyak. “Seharusnya pelana keledai itu adalah untuk anak anda yang masih muda ini.” Tak lama kemudian, anaknya pun menjawab sekerumunan orang itu untuk menjelaskan, “Memang ini tugas saya,” kata sang anak, “Membantu orang tua yang sedang sakit. Saya mohon anda semua dapat mengerti keadaan ini.”
Tetapi tetap saja segerombolan orang itu mengolok-oloknya. Tanpa perduli apa yang menjadi alasan anak kecil itu.
Namun ayahnya berkata, “Tidak perlu kamu melayani mereka, mari kita hindari pertengkaran, biarlah ayah berjalan dan kamu menunggangi keledai ini.” Akhirnya sang ayah menyuruh anaknya menaiki punggung keledainya. Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Dalam perjalanan, kelihatan bahwa sang ayah berjalan sedikit sempoyongan. Maka para wanita yang kebetulan memperhatikan hal itu langsung memarahi si anak yang sedang menunggangi keledainya, dan membiarkan ayahnya berjalan perlahan-lahan dibelakangnya dengan bersusah payah. “Hai, anak kecil! Kelihatanya ayahmu kelelahan dan kelihatan lemah sekali. Mengapa engkau membiarkanya, berjalan dibelakangmu dengan susah payah, sementara engkau santai saja menunggangi keledaimu itu?” teriak perempuan itu. “Biarkan ayahmu menaiki keledaimu, kalau tidak dia akan lelah dan mati lemas!”
Karena merasa malu, tanpa berkata sepatahkatapun untuk menjawab perempuan tadi. Anak itupun turun dan menyuruh ayahnya menaiki keledai. Kemudian dia berjalan di depan sambil menarik tali kekang keledai. Setelah mereka sampai di tengah pasar, sang ayah dan anaknya membeli beberapa kebutuhan mereka sehari-hari.
Tanpa terasa, hari mulai sore. Karena terburu-buru, mereka tidak sempat untuk beristirahat. Anak sulung yang baik hati itupun, menyuruh ayahnya yang menunggangi keledai dan menaruh belanjaanya di punggung keledai bagian belakang. Merekapun meninggalkan pasar yang masih ramai dipenuhi banyak orang.
Dalam perjalanan meninggalkan pasar, terlihat beberapa orang memperhatikan mereka dengan sinis. Karena tidak mengerti kalau sang ayah sedang sakit, merekapun mencemoohnya, “Hai tua bangka, kenapa engkau membiarkan anakmu berjalan sedangkan engkau bersenang-senang menunggangi keledaimu itu?“. Tanpa mengubris ocehan orang-orang itu dan agar tidak dicemooh lagi, mereka memutuskan untuk menaiki keledainya bersama-sama dengan barang bawaan, hasil belanjaannya.
Setelah beberapa kilometer mereka berjalan, mereka bertemu dengan rombongan wisatawan yang memandangi mereka dengan keheranan. Mereka merasa kasihan atas beban keledai yang harus memikul berat ayah dan anak sekaligus hasil belanjaan mereka. “Begitu kejam kalian! Kalian akan membunuh keledai tersebut,” kata salah seorang dari rombongan itu.
Mendengar hal ini, ayah dan anaknya pun turun dari punggung keledai. Dan saat itu juga mereka langsung mencari sebatang kayu yang cukup kuat, kemudian diikatlah kain pembungkus belanjaan mereka hingga menyerupai sebuah tandu. Setelah tandu itu siap, mereka memasukan keledai mereka bersama dengan barang belanjaanya kedalamnya. Lalu mereka berdua memikulnya sambil berjalan.
Melihat tingkah ayah dan anak ini, bukannya para pelancong itu memuji, namun sebaliknya mereka tertawa beramai-ramai. Tanpa ambil pusing, walau dengan susah payah, sang anak dan ayahnya terus memikul keledai beserta belanjaan menyusuri jalan menuju rumah mereka. Tujuan mereka melakukan hal ini, agar terbebas dari cemooh orang banyak seperti yang mereka rasakan sejak siang hari tadi.
Pesan moral dari cerita ini adalah, bahwa kita tidak dapat menyenangkan semua orang sekaligus dengan satu cara, ada yang suka dan adapula yang tidak suka. Kita tidak mungkin menyenangkan mereka sekaligus.
Sumber:http://anaknusantara.com
No comments:
Post a Comment